Senin, 28 April 2014

MANUSIA PRASEJARAH DI DUNIA

A.        Manusia Prasejarah di Indonesia

Jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia memiliki usia yang sudah tua, hampir sama dengan penemuan manusia purba di negara-negara lainnya di dunia. Bahkan Indonesia dapat dikatakan mewakili penemuan manusia purba di daratan Asia. Daerah penemuan manusia purba di Indonesia tersebar di be­berapa tempat, khususnya di Jawa. Penelitian tentang manusia purba di Indonesia telah lama dilakukan. Para peneliti itu antara lain: Eugene Dubois, G.H.R Von Koenigswald, dan Franz Wedenreich. Berikut ini jenis-jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia.

1.   Pithecanthropus erectus (Manusia kera yang berjalan tegak)
Jenis manusia ini ditemukan oleh seorang dokter dari Belanda bernama Eugene Dubois pada tahun 1890 di dekat Trinil, sebuah desa di pinggir Bengawan Solo, tak jauh dari Ngawi (Madiun). Pithecanthropus Erectus diambil dari kata pithekos = kera, anthropus = manusia, erectus = berjalan tegak. Jadi Pithecanthropus Erectus artinya manusia-kera yang berjalan tegak. Jenis manusia ini menurut para ahli kemampuan berpikirnya masih rendah karena volume otaknya 900 cc, sedangkan volume otak manusia modern lebih dari 1000cc. Kemudian kalau dibandingkan dengan kera, volume otak kera tertinggi 600 cc. Jadi, jenis manusia purba ini belum mencapai taraf ukuran otak manusia modern. Diperkirakan jenis manusia ini hidup antara 1 juta-600.000 tahun yang lalu atau pada zaman paleolithikum (zaman batu tua).
Fosil sejenis Pithecantropus lainnya ditemukan oleh G.H.R Von Koenigswald pada tahun 1936 di dekat Mojokerto. Dari gigi tengkorak diperkirakan usia fosil ini belum melebihi usia 5 tahun. Kemungkinan tengkorak tersebut anak dari Pithecanthropus Erectus dan von Koenigswald menyebutnya dengan nama Pithecantropus Mojokertensis. Von Koenigswald di tempat yang sama menemukan fosil yang diberi nama Pithecantropus Robustus.

2. Pithecanthropus Mojokertensis (Manusia kera dari Mojo)
Pada 1936, von Koenigswald di daerah Mojokerto menemukan fosil tengkorak anak-anak yang diperkirakan belum melewati usia 5 tahun. Diperkirakan fosil ini merupakan anak Pithecantropus Erectus. Fosil ini dinamakan Pithecanthropus Mojokertensis.

3. Pithecanthropus Soloensis(Manusia kera dari Solo)
Sebelum menemukan Meganthropus palaeojavanicus, pada tahun 1931 Von Koenigswald juga berhasil menemukan tengkorak dan tulang kering yang mirip dengan Pithecanthropus erectus temuan Dubois. Fosil tersebut kemudian diberi namaPithecanthropus soloensis berarti manusia kera dari Solo yang ditemukan di Sambungmacan dan Sangiran.
4. Meganthropus Paleojavanicus (manusia besar dari zaman Batu di Jawa)
Pada tahun 1941, von Koeningwald di daerah menemukan sebagian tulang rahang bawah yang jauh lebih besar dan kuat dari rahang Pithecanthropus. Geraham-gerahamnya menunjukkan corak-corak kemanusiaan, tetapi banyak pula sifat keranya. Von Koeningwald menganggap mahluk ini lebih tua daripada Pithecanthropus. Mahluk ini ia beri nama Meganthropuis Paleojavanicus (mega = besar), karena bentuk tubuhnya yang lebih besar. Diperkirakan hidup pada 2 juta sampai satu juta tahun yang lalu.

5. Homo Soloensis (Manusia dari Solo)
Hampir bersamaan dengan penemuan Meganthropus palaeojavanicus, Von Koenigswald menemukan pula sebuahtengkorak manusia yang memiliki volume otak lebih besar dari manusia-manusia jenis Pithecanthropus. Struktur tengkorak manusia ini tidak mirip dengan kera. Karena itu, fosil ini diberi nama Homo soloensis yang artinya manusia dari Solo.

6. Homo Wajakensis (manusia dari Wajak)
Fosil tengkorak manusia yang mirip dengan penemuan Von Koenigswald pernah pula ditemukan sebelumnya oleh seorang penambang batu marmer bernama B.D. Vonn Rietschotten pada tahun 1889. Fosil tersebut kemudian diteliti oleh Eugene Dubois dan diberi nama Homo wajakensis, artinya manusia dari Wajak.

7. Homo Sapiens (Manusia Cerdas)
Homo Sapiens merupakan manusia yang paling maju dan paling cerdik. Homo Sapiens, artinya manusia yang cerdas. Homo Sapiens hidup pada masa Holosen dan memiliki bentuk fisik yang yang hampir sama dengan manusia zaman sekarang. Fosil ini ditemukan oleh Von Rietschoten pada tahun 1889, di Desa Wajak, Campur Darat, Tuluanggung, Jawa Timur.
Homo Sapiens yang terdapat di Indonesia sudah ada pada zaman Mesolithikum dan mereka sudah mengenal tempat tinggal secara menetap serta mengumpulkan makanan dan menangkap ikan. Kebudayaannya disebut kebudayaan Mesolithikum yang mendapat pengaruh dari kebudayaan Bacson-Hoabinh dari Indo-Cina (Vietnam).


B.   Manusia Prasejarah di Asia, Afrika, dan Eropa
1.  Manusia Prasejarah di Asia
Penemuan fosil manusia zaman prasejarah di Asia antara lain terjadi di Peking. Namanya Homo erectus pekinensis, atau manusia Peking (disebut juga dengan nama manusia Beijing atau Sinanthropus Pekinensis). Ditemukan oleh Davidson Son Black dan Franz Waidenreich pada tahun 1929-1980 didalam gua Zhoukoudian (Choukoutien), dekat Beijing (Peking), Cina. Diduga fosil ini hidup pada 250.000-400.000 tahun yang lalau, pada zaman Pleistosen.
Sinanthropus pekinensis adalah manusia purba yang fosilnya ditemukan di gua naga daerah Peking negara Cina oleh Davidson Black dan Franz Weidenreich. Sinanthropus pekinensis dianggap bagian dari kelompok pithecanthropus karena memiliki ciri tubuh atau badan yang mirip serta hidup di era zaman yang bersamaan. Sinanthropus pekinensis memiliki volume isi otak sekitar kurang lebih 900 sampai 1200 cm kubik.
2.  Manusia Prasejarah di Eropa
Di benua Eropa, pada tahun 1856 diketemukan fosil manusia zaman prasejarah berupa tempurung kepala dan beberapa tulang anggota tubuh yang diberi nama Homo Neanderthalensis, oleh Rudolph Virchou. Tepatnya di Gua Neanderthal, dekat Dusseldorf. Diperkirakan mahluk ini hidup pada pertengahan alhir Pleistosen, ± 500.000 sampai 50.000 yang lalu. Pada tahun tahun 1868, ditemukan fosil Homo Cro-Magnon di gua Cro_Magnon dekat kota Les Eyzies. Ciri fisiknya mendekati manusia masa kini, umurnya sekitar 40.000-25.000 tahun yang lalu.

3.  Manusia Prasejarah di Afrika
Ditemukan fosil Homo Rhodesiensis di gua Broken Hill, Rhodesia (sekarang Zimbabwe) pada tahun 1924 oleh Robert Brom. Selain itu, ditemukan pula fosil Australopithecus Africanus di Taung dekat Vryburg, Afrika Selatan pada tahun 1924 oleh Raymond Dart.
1. Australopithecus Africanus
Australopithecus africanus ditemukan di desa Taung di sekitar Bechunaland ditemukan oleh Raymond Dart tahun 1924. Bagian tubuh yang ditemukan hanya fosil tengkorak kepala saja.
2. Paranthropus Robustus dan Paranthropus Transvaalensis
Dua penemuan tersebut ditemukan di daerah Amerika Selatan dengan ciri isi volume otak sekitar 600 cm kubik, hidup di lingkungan terbuka, serta memiliki tinggi badan kurang lebih 1,5 meter. Kedua fosil menusia kera tersebut disebut australopithecus.

C.  Manusia Modern

            Pengertian atau arti definisi manusia modern adalah manusia yang termasuk ke dalam spesies homo sapiens dengan isi volum otak kira-kira 1450 cm kubik hidup sekitar 15.000 hingga 150.000 tahun yang lalu. Manusia modern disebut modern karena hampir mirip atau menyerupai manusia yang ada pada saat ini atau sekarang.
1. Manusia Swanscombe - Berasal dari Inggris
2. Manusia Neandertal - Ditemukan di lembah Neander
3. Manusia Cro-Magnon / Cromagnon / Crogmanon - Ditemukan di gua Cro-Magnon, Lascaux Prancis. Dicurigai sebagai campuran antara manusia Neandertal dengan manusia Gunung Carmel.
4. Manusia Shanidar - Fosil dijumpai di Negara Irak
5. Manusia Gunung Carmel - Ditemukan di gua-gua Tabun serta Skhul Palestina
6. Manusia Steinheim - Berasal dari Jerman




Essay
  1. Jelaskan dimana daerah persebaran manusia purba di Indonesia
2.      Identifikasikan hasil kebudayaan manusia prasejarah pada zaman paleolithicum, ciri fisik dan fungsinya
3.      Tuliskan 3 lokasi daerah persebaran ditemukanya jenis manusia purba di Indonesia
  1. Deskripsikan ciri-ciri fisik manusia purba yang ada di Cina
5.      Identifikasikan 2jenis manusia purba di Arika berdasarkan ciri fisiknya



1.         Pithecanthropus erectus Jenis manusia ini ditemukan di dekat Trinil, Pithecantropus lainnya ditemukan oleh G.H.R Von Koenigswald pada tahun 1936 di dekat Mojokerto, Pithecanthropus soloensis berarti manusia kera dari Solo yang ditemukan di Sambungmacan dan Sangiran, dan penemuan manusia purba di wajak
2.         Beberapa hasil kebudayaan dari zaman paleolitikum, di antaranya kapak genggam, kapak perimbas, monofacial, alat-alat serpih, chopper, dan beberapa jenis kapak yang telah dikerjakan kedua sisinya. Contoh hasil kebudayaan dari zaman paleolitikum adalah flake atau alat-alat serpih. Hasil kebudayaan ini banyak ditemukan di wilayah Indonesia, terutama di Sangiran (Jawa Tengah) dan Cebbenge (Sulawesi Selatan). Flake memiliki fungsi yang besar, terutama untuk mengelupas kulit umbi-umbian dan kulit hewan.
3.         Trinil, Mojokerto, Wajak
4.         bentuk tubuh tegap, dianggap bagian dari pithecanthropus karena memiliki ciri tubuh atau badan yang mirip serta hidup di era zaman yang bersamaan. Sinanthropus pekinensis memiliki volume isi otak sekitar kurang lebih 900 sampai 1200 cm kubik.
5.         a. Australopithecus Africanus
Australopithecus africanus ditemukan di desa Taung di sekitar Bechunaland ditemukan oleh Raymond Dart tahun 1924. Bagian tubuh yang ditemukan hanya fosil tengkorak kepala saja.
b. Paranthropus Robustus dan Paranthropus Transvaalensis
Dua penemuan tersebut ditemukan di daerah Amerika Selatan dengan ciri isi volume otak sekitar 600 cm kubik, hidup di lingkungan terbuka, serta memiliki tinggi badan kurang lebih 1,5 meter. Kedua fosil menusia kera tersebut disebut australopithecus.




Pengaruh budaya dan Peradaban Bacson, Hoa - Bihn, dan Dongson dengan perkembangan budaya masyarakat awal di kepulauan Indonesia

Pengaruh budaya dan Peradaban  Bacson, Hoa - Bihn, dan Dongson dengan perkembangan budaya masyarakat awal di kepulauan Indonesia
Secara geografis, wilayah Indonesia berada pada posisi silang di antara dua benua (Asia dan Australia) dan diantara dua samudera (Hindia dan Pasifik). Posisi silang tersebut menjadikan Indonesia mudah mendapatkan pengaruh dari luar, terutama pengaruh terhadap peradaban dan budaya. Untuk dapat lebih memahami apa dan bagaimana pengaruh dari luar tersebut terhadap peradaban dan budaya Indonesia, perhatikan uraian materi di bawah ini dengan saksama!
i.        Peradaban Lembah Sungai Mekong.
1.LokasiPeradaban Lembah Sungai Mekong beraal dari Daerah pegunungan Kwen Lun di Asia Tengah yang mengalir melalui daerah Cina Selatan, Sungai Mkong menjadi perbatasan antara  Thailand dan Indo Cina dan membangun Tanjung Kamboja seperti paruh bebek. Sehingga nantinya Sungai Mekong memberikan kesuburan tanah kepada daerah-daerah yang dilalui, seperti Laos, Vietnam, dan Kamboja.

2. Pendukung Manusia-manusia kuno juga berasal dari Asia Tengah. Melalui sungai atau lembah mereka menyebar ke daerah pantai. Penyebaran mereka mungkin disebabkan karena adanya wabah penyakit atau bencana alam. Dari fosil yang ditemukan, dapat dinyatakan bahwa mereka terdiri atas beberapa macam ras, yaitu: 
a. Ras Papua Melanesoid,
b. Ras Europaede
c. Ras Mongoloide
d. Ras Austroloide
e. Ras Melayu
Istilah bacson-hoabinh ini dipergunakan sejak tahun 1920 -an yaitu untuk
menunjukan suatu tempat pembuatan alat -alat batu yang khas dengan ciridari
peninggalan kebudayaan bacson-hoabinh
Percampuran antara Ras Papua Melanesoid dengan Ras Europaede, mereka melahirkan bangsa Melayu yang berkulit sawo matang. Daerah Teluk Tonkin di  Indo Cina merupakan tanah air mereka yang kedua. Dari Indo Cina mereka menyebar ke Kamboja, Muangthai yang kemudian menjadi bangsa  Austro-Asia, dan sebagian besar ke kepulauan yang kemudian menjadi bangsa Austronesia.

3.      Pusat Peradaban
Pada lembah sungai Mekong terdapat dua pusat peradaban, yaitu:
a. BacsonHoabinh yang nantinya terkenal dengan kebudayaan Mesolithikum atau kebudayaan batu tengah.
b.Dongson yang nantinya terkenal dengan kebudayaan perunggu.

4.      Kehidupan Masyarakat.
Para ahli berpendapat bahwa masyarakat pendukung Peradaban Lembah Sungai Mekong berasal dari Asia Tengah. Melalui sungai alau lembah- lembah mereka menyebar ke daerah pantai  dan akhirnya sampai dan hidup menetap di Lembah Sungai Mekong. Kehidupan mereka adalah sebagai berikut:
a.       Memiliki kepandaian dalam bercocok tanam, baik dalam tingkat berladang maupun bersawah
LATIHAN 1.1
1. Berikan contoh tentang ilmu perbintangan yang kamu ketahui!
2. jelaskan keadaan masyarakat lembah sungai Mekong!
Bercocok tanam meliputi berladang maupun bersawah. Hasilnya berupa padi yang merupakan bahan makanan pokok, di samping palawija yang merupakan tanaman selingan, seperti kacang, kedelai, dan jagung. Untuk mengerjakan sawah, mereka menggunakan bajak yang ditarik oleh kerbau atau sapi.

b.      Memiliki keahlian membuat perahu yang disebut perahu bercadik.
Perahu ini dipergunakan untuk perpindahan dari daratan Asia ke daerah kepulauan (Austronesia). Salah satu ciri khas perahu buatan bangsa Melayu adalah dipergunakannya cadik. Cadik terbuat dari kayu atau bambu dan yang membuat perahu menjadi seimbang sehingga tidak mudah goyang.
c.       Memiliki pengetahuan tentang perbintangan ( astronomi)
Pengetahuan astronomi dipergunakan bangsa Melayu untuk pertanian dan pelayaran. Gugusan bintang Waluku yang bentuknya seperti bajak dipergunakan sebagai tanda untuk mengetahui datangnya musim bercocok tanam; sedangkan gugusan Bintang Salib Selatan dipergunakan untuk
mengetahui arah dalam pelayaran.
d.       Mengenal kepercayaan animisme dan dinamisme
Pemujaan roh nenek moyang (animisme) dan pemujaan terhadap benda-benda yang mempunyai kekuatan gaib (dinamisme) adalah kepercayaan yang mereka kenal. Dalam prakteknya kedua macam kepercayaan itu menimbulkan kebudayaan wayang, pemujaan makam dan sebagainya.

II. Peradaban Bacson Hoabinh.
a.       Lokasi
Peradaban Bacson Hoabinh terletk di Lembah Sungai Mekong. Bascon adalah daerah pegunungan dan Hoabinh adalah dataran. Keduanya terletak tidak jauh dari Teluk Tonkin atau sekarang termasuk wilayah Vietnam. Peradaban Bacson ditemukan di bukit-bukit kerang di pegunungan Bacson atau di seblah utara kota Hanoi sekarang. Sedangkan Hoabinh ditemukan di gua-gua di dataran rendah Propinsi Hoabinh.
b.       Pendukung
   Ras Papua Melanesoid merupakan manusia pendukung peradaban Bacson Hoabinh. Teuku Jacop menyebutkan ras ini dengan nama Ras Austro Melanesoid Yng sekrang menjadi penduduk asli Irian Jaya.


c.        Hasil Kebudayaan
   Peradaban daerah ini pada mulanya merupakan pusat kebudayaan batu madya (Mesolitikum) di Asia Tenggara.  Hasil budayanya yang terkenal adalah:
1.      Kapak Sumatra (Pebble) dengan bangsa Papua Melanesoid sebagai pendukungnya. yaitu kapak yang terbuat dari bayu kali bundar yang dibelah , satu sisinya dibiarkan sedangkan sisi lainnya dikerjakan lebih lanjut sesuai dengan kepeluan. Dalam pengerjaannya kapak ini sebagiab besar masih kasar. Namun ada juga sebagian yang dikerjakan secara halus atau diasah setelah mendapat pengaruh dari bangsa Mongoloid yang sudah tinggi peradabannya.
2.      Kapak pendek (hanche courte), yaitu kapak yang berbentuk setengah lingkaran yang tajamnya terdapat pada sisi yang lengkung dan dikerjakan  secara kasar.
3.      Alat-alat yang terbuat dari tulang binatang dalam berbagai bentuk.

d.        Pengaruh budaya Bacson Hoabinh dengan perkembangan awal masyarakat Indonesia. 
  Pengaruh budaya Bacson Hoabin ternyata berkembang sampai ke kepulauan nusantara. Menurut penelitian para ahli dapat disimpulkan bahwa daerah Bacson Hoabin merupakan pusat peradaban atau kebudayaan Mesolithikum di Asia Tenggara. Kebudayaan Bacson Hoabin masuk melalui Thailand Melayu lalu menyebar ke Nusantara. Ciri khas alat batu kebudayaan Bacson Hoabin adalah penyerpihan pada satu atau dua sisi permukaan batu kali yang berukuran kurang satu kepalan, dan sering kali seluruh tepiannya menjadi bagian yang tajam.
Bukti-bukti adanya pengaruh peradaban  dan kebudayaan Bacson Hoabinh terhadap perkembangan awal masyarakat Indonesia adalah:
1.      Ditemukannya Kebudayaan Sumatra ( Pebble Culture)
LATIHAN 1.2
1.        Pengaruh budaya Bacson Hoabinh dengan perkembangan awal masyarakat Indonesia!
2.       Sebutkan hasil kebudayaan Bacson Hoabinh!
Hasil budaya terpenting adalah kapak Sumatra ( Pebble Culture) , kapak pendek (Hache courte), dan alat- alat tulang serta didukung oleh bangsa Papua Melanesoid. Penyelidikan tentang persebaran kapak Sumatera dan kapak Pendek membawa kita melihat daerah Tonkin di Indocina dimana ditemukan pusat kebudayaan Prasejarah di pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh yang letaknya saling berdekatan.
2.      Ditemukannya Kebudayaan Sampung Ponorogo ( Bone Culture)
Hasil budaya terpenting adalah alat-alat dari tulang dalam berbagi bentuk serta didukung oleh bangsa Papua Melanesoid.
Meskipun masyarakat awal di Indonesia mendapat pengaruh peradaban  dan kebudayaan Bacson Hoabinh namun Kebudayaan Mesolithikum Indonesia tidak seluruhnya mendapat pengaruh peradaban Bacson Hoabinh, tetapi mendapat pengaruh Kebudayaan Mesolithikum dari Asia Daratan ( Cina). Terbukti dengan diketemukannya Kebudayaan Toala ( SulawesiSelatan). Hasil budayanya yang terpenting adalah alat-alat serpih ( flakes) yang tidak ditemukan dalam  kebudayaan Bacson Hoabinh. Sedangkan Ras pendukungnya adalah Ras Wedoidbukan bangsa Papua Melanesoid. Jadi dari penjelasan di atas dapat disimpukan bahwa Kebudayaan Mesolithikum pada masyarakat awal di Indonesia mendapat dua pengaruh peradaban besar yaitu :
1.      Peradaban Bacson Hoabinh dengan kapak Sumatra dan alat-alat tulang sebagai ciri khasnya.
2.      Peradaban Mesolithikum  Asia Daratan ( Cina) dengan alat- alat serpih (flakes) sebagai ciri khasnya.
Kedua kebudayaan besar tersebut nantinya bertemu di Indonesia di dua tempat yaitu di Jawa dan Sulawesi. Hal itu terbukti dari:
1.      Diketemukannya Kebudayaan Sampung Ponorogo
Di tempat ini ditemukan alat-alat serpih ( flakes) yang menjadi ciri khas Mesolithikum Asia DAaratan, tetapi juga diketemukan alat-alat tulang dan pendukungnya adalah bangsa Papua Melanesoid  sebagai ciri khas Mesolithikum Bacson Hoabinh.
2.      Ditemukannya kebudayaan Toala ( Sulawesi Selatan)
Di tempat ini di temukan alat-alat tulang dan kapak Sumatra yang menjadi ciri khas Mesolithikum Bacson Hoabinh, tetapin juga ditemukan alat-alat serpih (flakes) dan pendukungnya adalah bengsa atau Ras Wedoid sebagai ciri khas Mesolithikum Asia Daratan

.    Proses migrasi Ras Proto Melayu dan Detro Melayu ke kawasan Asia Tenggara dan  Indonesia.

I.       Persebaran Bangsa Melayu Tua (Proto Melayu atau Palaeo Mongoloid)

Menurut  Kern dan Von Heine Geldern, bahwa asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia adalah bangsa Austronesia yang datang ke Nusantara sekitar tahun 3000 SM. Maka  bangsa Proto Melayu diperkirakan  masuk ke nusantara sekitar  abad 2000 SM atau pada zaman Neolithikum. Kedua bangsa ini dianggap sama-sama berasal dari Yunan, Cina Selatan. Mereka masuk melalui dua jalur , yaitu  jalan Barat dan jalan Timur.
1.      Jalur Barat  menempuh rute  :  daratan Asia        
Semenanjung Melayu              Sumatera
2.  Jalur Timur menempuh rute  : daratan Asia   Fipina               Sulawesi
Ciri- ciri kehidupan mereka adalah :
1.      Memiliki kepandaian bercocok tanam di ladang ( berhuma)
2.      Membawa kebudayaan kapak persegi

3.      Mengembangkan kebudayaan pantai dengan menggunakan perahu bercadik.
4.      Hidupnya bersifat menetap (sadenter) dengan cara membuat rumah berbentuk panggung.

Hasil budayanya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kapak persegi dan kapak lonjong. Kapak persegi tersebar di wilayah Indonesia bagian barat yang di bawa melalui jalur Barat, sedangkan kapal lonjong tersebar di Indonesia Timur  dan masuk melalui jalur Timur. Pendukung kapak persegi adalah bangsa Austronesia dan  pendukung kapak lonjong adalah bangsa Papua –Melanesoid (sama-sama disebut bangsa Austronesia).Proses migrasi berlangsung sejak tahun 2000 SM berjalan sampai tahun 500 SM, sehingga hubungan dengan Asia terjalin dalam waktu yang cukup lama. Keturunan bangsa Proto-Melayu (Melayu tua) atau bangsa Austronesia adalah suku Batak, Toraja, dan Papua.

II. Persebaran bangsa Melayu Muda (Deutro Melayu)
      Para ahli pra historis beranggapan bahwa bangsa melayu muda berasal dari Teluk Tonkin yang berpusat di Dongson, Vietnam Utara. Bangsa ini datang ke Nusantara sekitar tahun 1500 SM. Dari Teluk Tonkin mereka menuju ke Muangthai dan ke Malaysia Barat terus menuju ke Sumatra. Dari sini sebagian ke Kalimantan dan sebagian ke pulau Jawa. Kemudian ke Sulawesi dan sebagian ke Bali, terus menuju ke Nusa Tenggara sehingga sampai ke Maluku. Ciri-ciri kehidupan bangsa Melayu Muda adalah:
1.   Memiliki kepndian bercocok tanam di sawah dengan menanam padi.
2.   Membawa kebudayaan perunggu dan besi.
3.   Mengembangkan kebudayaan pantai dengan menggunakan perhu bercadik.
4.   Hidupnya sudah teratur dengan membentuk perkampungan, desa, dan perkotaan.


Hasil-hasilkebudayaan perunggu yang ditemukan di Indonesia di antaranya adalah kapak corong (kapak sepatu), nekara, dan bejana perunggu. Pendukung kebudayaan perunggu adalah bangsa Deutero-Melayu atau Melayu muda.  Benda-benda logam ini umumnya terbuat dari tuangan (cetakan).Keturunan bangsa Deutro Melayu ini selanjutnyaberkembang menjadi suku-suku tersendiri, misalnya Melayu,Jawa, Sunda, Bugis, Minang, dan lain-lain.